Maaf, Aku Khilaf!
"Maaf, Aku khilaf."
Menjadi sebuah kalimat yang digemari sebagian lelaki ketika melakukan kesalahan tapi tak ingin bertanggung jawab karenanya.
Mengapa aku berani mengatakan hal tersebut? Karena seperti itulah adanya.
Dari beberapa novel yang aku baca, juga dalam adegan film Indonesia lama yang aku tonton, dan beberapa cuplikan adegan di sinetron yang ditayangkan stasiun tv tanah air, yang bahkan hingga di dalam kehidupan sehari-hari pun, banyak sekali dialog yang menyelipkan kalimat "Maaf, aku khilaf." tersebut. Memang, itu mungkin hanya cerita fiktif, namun itu menjadi cerminan dari kehidupan yang terjadi disekitar kita. Maka aku dapat menyimpulkan hal itu dengan kalimat pertama diatas.
Biasanya kata tersebut muncul ketika dua orang individu yang berlawanan jenis, sedang bertengkar atau sedang terlibat adu argumen. Dipicu oleh berbagai macam permasalahan seperti, kekerasan dalam rumah tangga, telah tergoda melakukan sex bebas, pasangan yang berselingkuh, dan lain sebagainya. Kata tersebut biasanya dijadikan tameng, dengan dalih sang pelaku sedang dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar dalam melakukan hal tersebut. Dan mayoritas yang paling sering mengucapkannya ialah kaum lelaki.
Lantas, apakah kata-kata tersebut menyelesaikan persoalan?
Dalam KBBI, Khilaf sendiri memiliki arti yaitu keliru; kesalahan yang tidak disengaja, yang kemudian ditambahkan dengan kalimat dapat saja terjadi dalam pergaulan sehari-hari.
Dan apakah ketidak-sengajaan dapat menjadi suatu hal yang dengan mudah diselesaikan/dimaafkan/dilupakan?
Bila merujuk pada pengertian tersebut, sudah jelas bahwa kalimat Maaf, aku khilaf bukanlah kalimat yang menyelesaikan persoalan. Kalimat tersebut lebih menyiratkan pada pembelaan diri yang dilakukan oleh si pelaku. Dengan harapan, sang korban dapat memahami posisi ia ketika melakukan "sesuatu" yang diluar kehendaknya, dan melupakannya, dan ditambah dengan memberikan pemakluman berupa maaf.
Terdengar sangat egois bukan? Lalu, bagaimana dengan sang korban yang mayoritas didominasi oleh perempuan? Sang penerima kata Maaf yang dibarengi dengan aku khilaf dibelakangnya? Bagaimana perasaannya? Psikologisnya? dan bagaimana ia menyikapinya kemudian?
Terlebih sebelum kata tersebut terdengar olehnya, pasti ia dan sang pelaku telah terlibat dalam satu ruang waktu yang sama dimana terjadi aktivitas "tidak sengaja" didalamnya.
Baik itu misalnya si pelaku yang tidak sengaja menampar wajah sang korban, atau si pelaku yang tidak sengaja mencium sang korban, atau lagi-lagi tidak sengaja berselingkuh dengan teman sang korban? dan hal-hal lain yang dibumbui dengan ketidak sengajaan. Lalu bagaimana dampaknya bagi sang korban?
Dalam psikologi wanita, Maccoby & Jacklin (1974) mengatakan bahwa psikologis perempuan yang mudah terpengaruh dan mudah dibujuk untuk mengubah keyakinannya dikarenakan perempuan itu dapat lebih bersedia menyesuaikan diri daripada laki-laki berdasarkan pertimbangan konsekuensi yang diasumsikannya. Dan itu benar. Karena, dari cerita novel, cuplikan film, dan dalam kehidupan sehari-hari yang aku temui dan terdapat kasus dimana ada dialog dengan kalimat Maaf, aku khilaf yang dikatakan oleh seorang lelaki, perempuannya akan menjawab aku maafkan. Meskipun, hal tersebut digambarkan dengan perasaan marah yang menggebu dan tak karuan dalam diri perempuan itu sendiri, tapi pada akhirnya ia mengalah dan memilih untuk mengamini itu.
Hal tersebut dikuatkan dalam beberapa ciri bias dalam psikologi perempuan, disebutkan bahwa psikologi perempuan yaitu yang selalu mengalah, menyetujui, menyesuaikan diri, dan menyenangkan orang lain. Karenanya muncul anggapan bahwa perempuan dipandang sebagai mahluk lemah dan lelaki dipandang agresif. Padahal dari situ saja sudah terlihat bagaimana kuatnya seorang perempuan.
Itu semua yang aku lihat dari sudut pandangku sebagai perempuan, dari rasa empati yang muncul begitu saja terhadap persoalan khilaf-khilafan, dan dari jutaan pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak semisal "Mengapa laki-laki bisa begitu tega melakukannya? Tak sadar kah ia lahir dari rahim seorang perempuan?" akan hal tersebut.
Sekarang aku akan mencoba melihat hal ini dari sudut pandang laki-laki.
Dalam gender, laki-laki digambarkan dengan sosok maskulin yang lebih condong menggunakan logika dibanding perasaan dalam menghadapi apapun.
Bisa jadi, dalam persoalan khilaf ini pun bukan sepenuhnya kesalahan laki-laki.
Dalam prosesnya mungkin si pelaku masih bisa berpikir dengan
nalarnya, bahwa ia tak seharusnya melakukan hal itu, namun ada celah kesempatan
yang diberikan sang korban sehingga ia urung untuk berhenti dan hal
tersebut berulang terus-terusan. Hingga tiba di satu titik, dimana
salah-satu dari kedua orang tersebut merasa jengah dengan keadaan itu, dan
mempertanyakannya. Lalu, kembali tersadar lah si pelaku, bahwa ia tak seharusnya melakukan hal tersebut.
Aku bertanya pada seorang teman lelaki ku mengenai hal ini,
F: Kamu pernah bilang "Maaf, aku khilaf" sama perempuan?
D: Iya pernah.
F: Terus apa yang ada dipikiran kamu waktu bilang itu?
D: Aku mengakui kesalahanku, dan mengharap maaf untuk itu. Dan mungkin suatu saat nanti, hal itu akan terulang.
F: Hahaha. Jadi, bisa dibilang kalau kamu mengakui kesalahan kamu, tapi tak mau bertanggung jawab karenanya?
D: Thats right!! hahahah
F: Brengsek. hahahaha
D: Karena emang semua laki-laki kaya gitu, kalau ada celah dia bisa jadi brengsek hahahah
Lalu dari percakapan tersebut aku mengetahui sesuatu, lelaki selalu melakukan segala sesuatu dibarengi dengan logikanya, dan bila ia melakukan sesuatu dengan tidak sengaja, bisa jadi logika nya dikalahkan oleh nafsu, baik itu nafsu amarah atau pun nafsu birahi.
Jadi bila disimpulkan, keadaan ini bukan lah kesalahan yang muncul dari satu pihak, namun ada peran juga dari pihak yang lain. Yang salah mungkin perihal rasa tanggung jawab dari diri masing-masing, yang satu tidak bisa bertanggung jawab atas aksi yang ia lakukan, yang satu juga tidak bisa bertanggung jawab atas reaksi yang dia berikan.
Sept'16.
Diilhami dari kisah nyata yang terjadi pada aku, dan orang-orang disekitar aku.
![]() |
| your expression if someone talk to you"maaf, aku khilaf" be like.. |

0 comments