Latest Posts

Taman Sari Gua Sunyaragi, Cirebon.

By 10:58 PM , , , , ,

Jam 7 pagi aku dan teman-teman bertolak dari Bandung menuju Cirebon. Setelah menempuh perjalanan melalui sumedang, yang dilanjut melewati majalengka, dan didominasi oleh trek yang berkelok-kelok selama kurang lebih 4 jam, akhirnya rombongan kami sampai juga.
Disambut dengan teriknya matahari, juga udara yang mencapai 31 derajat celcius pada jam 11 siang, menjadi tanda perkenalan pertamaku dengan Kota Cirebon.

Pada awalnya aku dan juga teman-temanku, berangkat ke Cirebon untuk menghadiri resepsi pernikahan salah satu senior LPIK yang kukenal di kampus. Tapi setelah selesai menghadiri acara tersebut, salah satu teman mengusulkan untuk mengunjungi salah satu destinasi wisata yang tidak jauh dari lokasi kami berada, "Istirahatlah dulu lah sebentar disana, sebelum balik Bandung lagi," katanya. Jadi, bisa dibilang ini merupakan jalan-jalan yang tidak direncanakan.

Taman Sari Gua Sunyaragi, Cirebon.


Taman Sari Guan Sunyaragi, Cirebon, Jawa Barat.
Gua Sunyaragi ini berlokasi di pinggir jalan bypass Brigjen Dharsono yang tidak jauh dari pusat kota. Merupakan salah satu benda cagar budaya peninggalan keluarga keraton, menjadikan gua ini sebagai salah satu destinasi wisata favorite yang wajib dikunjungi kalau sedang berada di kota Cirebon. Konstruksi dari bangunan ini sendiri adalah taman air, sehingga kawasan situs ini dikenal dengan nama Taman Sari Gua Sunyaragi. Sunyaragi sendiri berasal dari bahasa sanskerta yang terdiri dari dua kata, Sunya memiliki arti sepi dan Ragi yang berarti raga. Kabarnya, baru di tahun-tahun ini Gua Sunyaragi kembali bangun dari tidur panjangnya setelah terpaksa "tidur" (Re: tak terurus) selama beberapa waktu.

Setelah menukarkan uang sepuluh ribu dengan selembar tiket tanda masuk, sekitar jam 13.00 wib aku sampai di dalam kawasan cagar budaya ini. Kesan pertama yang aku ingat yaitu kaget. Yap, untuk aku yang termasuk jarang pergi jalan-jalan, liburan, apalagi travelling ke luar kota tentu aneh melihat pemandangan seperti ini. hahaha.

Kawasan ini sangat luas, sejak meninggalkan pintu masuk mataku sudah menangkap bentuk bangunan yang terdiri dari bebatuan yang menyerupai batu karang yang tampak bertumpuk-tumpuk dari kejauhan. Di depan bangunan itu pun ada berdiri dengan kokoh sebuah gapura yang terbentuk dari batu, yang seperti biasa dapat kita lihat bila menjumpai bangunan khas Bali. Lalu bila menoleh ke kanan, aku bisa melihat sebuah anjungan yang identik dengan bangunan khas keraton, dan disitulah biasanya pertunjukan kesenian khas Cirebon seperti tari topeng atau tari sintren digelar. Masih di sisi kanan, terdapat tempat duduk ala-ala stadion yang biasanya digunakan untuk menonton pertandinga. Menjadi pertanyaan sendiri buatku sebenernya, untuk apa tempat duduk seperti itu ada di dalam kawasan cagar budaya (?) tapi aku kelupaan untuk bertanya pada guide yang ada disana.

Ini ketika masuk ke dalem bangunan yang terbuat dari bebatuan. So so-an candid hahaha

Ketika memasuki bebatuan yang mirip batu karang ditumpuk itu, kumpulan lumut-lumut hijau yang tersebar hampir disetiap sudut jadi pemandangan yang ditemui sepanjang perjalanan, ditambah banyak tangga-tangga kecil yang menghubungkan satu tempat ke tempat lainnya. Namun tidak semua bangunan terbuat dari batu-batu sih ada juga bangunan yang terbuat dari tembok batako biasa. Nah, ketika memasuki kawasan utama dari Gua Sunyaragi ini, aku mengerti mengapa banyak sekali lumut yang tersebar, karena memang di dalam sini pun aku menemukan banyak kolam-kolam seperti tempat penampungan air. Maklum saja, memang ini kawasan taman air yang pada masanya menjadi tempat peristirahatan sultan dan kelurga kerajaan.

Mengabadikan momen bersma Alifa, Angkel, dan Yuris. Di belakang kita ini salah satu bagian cagar yang ngga terbuat dari bebatuan. Katanya sih bekas kamar peristirahatan putri keraton pada waktu itu. Uwow.
Tangga-tangga imut gini nih yang sering banget ditemuin ketika  masuk ke bagian bangunan dan mau pindah dari satu tempat ke tempat yang yang lain. Keliatan juga penampakan lumut yang menghiasi setiap sudut.

Bonus Keberuntungan

Ternyata, rombonganku kesana datang di waktu yang tepat. Karena untuk memberikan pengunjung hiburan dengan mengenalkan kesenian khas Cirebon, di hari itu digelar pertunjukan tari yaitu kesenian tari Sintren yang biasanya digelar sebulan sekali. Pertunjukan digelar di anjungan yang aku bilang di atas.

Tari Sintren ini dimainkan oleh seorang gadis dan diiringi oleh musik tradisional juga dilengkapi oleh kamenyan, katanya untuk menjadi penari Sintren ini si gadis haruslah masih perawan. Didampingi oleh empat orang laki-laki yang mengenakan baju pangsi, si gadis mulai memasuki bagian depan bangunan dimana tempat pertunjukan akan digelar hanya menggunakan baju kaos biasa yang dipadukan dengan celana training.

Persiapan yang dilakukan sesaat sebelum pertunjukan dimulai.
Saat persiapan seseorang menyalakan kamenyan. Beberapa saat kemudian wangi dan asapnya langsung memenuhi seluruh tempat pertunjukan, dari sini lah muncul sedikit kesan mistis.
Setelah kamenyan menyala, selanjutnya seluruh badan si gadis diikat oleh tali tambang kecil berwarna hijau. Dimulai dari leher, badan, tangan, hingga ke kakinya dan kemudian seorang bapak-bapak membaca jampe-jampi padanya. Entah bagaimana caranya gadis itu pun dibuat tak sadarkan diri dan selanjutnya dimasukan ke dalam kurungan ayam seperti yang ada di foto.

Si Gadis dimasukan ke dalam kurungan ayam yang ditutupi oleh samping, dan bapak-bapak yang dibelakang itu membaca jampe-jampi.

Sesaat aku terpikir mungkin ini trik sulap, si gadis diikat seluruh badannya lalu dalam hitungan menit bisa melepaskan ikatan itu sendiri di dalam kurungan. Dan ternyata itu benar. Setelah beberapa saat, kurungan ayam dibuka dan taraaaa.. si gadis sudah berganti pakaian. Sekarang dia memakai kostum tari khas yang biasanya memang dikenakan oleh penari sintren, dilengkapi dengan kacamata hitam.

Ini waktu udah keluar dari kurungan ayam, dia lagi dikasih jampe-jampe sama bapak yang setengah duduk itu. Dan aa-aa yang dibelakangnya siaga terus megangin dia dibelakangnya sampai tarian beres. Karena emang gadis itu dibikin engga sadar. 

Setelah diberi aba-aba oleh si bapak, si gadis ini mulai menari.
Keunikan dari tarian ini adalah bila si gadis terkena saweran uang dari penonton, maka otomatis akan berhenti menari. Lalu dia akan dipegang tangannya oleh si bapak, dan gadis itu pun kembali menari. Dengan di iringi oleh musik yang dimainkan dibelakangnya, hal itu terus berulang sampai pertunjukan selesai. Entah karena adanya kamenyan, tapi aku merasa tarian ini agak mistis. Selain karena si gadisnya pun menari dalam kondisi tidak sadar.

Tapi, ya itu lah tarian Sintren. Tarian yang menjadi ciri khas kesenian dari daerah Cirebon, Jawa Barat. Aku pun merasa beruntung bisa datang ke tempat ini di waktu yang tepat, selain jadi tahu tentang kesenian khas daerah sini, aku juga jadi punya banyak pengetahuan baru dibuatnya. Cie. Padahal dulu aku taunya Taman Sari cuma ada di Jogja, dan tarian khas cirebon itu cuma tari topeng. hahaha.

Setelah berjalan-jalan di sekeliling cagar budaya dan mengambil berpuluh-puluh foto, akhirnya aku mulai lelah. Eh aku berkeliling ditemani dengan adik-adik lucu, yaitu Riva dan Alifa. Sebenernya kita seumuran, hanya saja aku kuliah lebih awal. Dan kemauan aku juga sih dianggap teteh  sama mereka hehe.

Ini mereka, yang kerudung pink itu Riva, dan dibelakang Alifa.


Akhirnya setelah 3 jam berada di tempat ini, sekitar jam 16.00 wib rombongan kami memutuskan untuk bertolak ke Bandung. Dan yap, berakhirlah hari ini dengan bahagia, Terimakasih Cirebon!

Salah satu bagian dari kawasan Taman Sari Gua Sunyaragi, Cirebon.


You Might Also Like

2 comments

  1. Sayangnya, saat itu tak ada diri yang sedang dijebak waktu dan kejauhan. 😒

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sayang sekali, jadi kamu ngga ikut merasakan sensai di dalam mobil kaya waktu itu hahaha

      Delete