Rumpi Ririwa, Kebebasan Pers: Perspektif Sosial, Budaya, dan Sejarah
Di ruangan yang telah penuh ini, tak seorang pun mengangkat tangannya.
"Ngga ada yang baca koran ini teh?" Tanya Adi lagi. "Pantesan! Gampang kena hoax." tambahnya.
Dan seisi ruangan pun tertawa.
| Adi Marsiela Ketua AJI Bandung (Kanan) dan Tarsi Wartawan Hatian Tribun Jabar (Kiri), dalam acara Rumpi Ririwa Diskusi Tahunan Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (15/2). |
LPIK menggelar agenda tahunannya berupa kegiatan diskusi yang dikenal dengan sebutan Rumpi Ririwa pada Rabu, 15 Februari 2017. Diskusi kali ini, mengangkat tema Kebebasan Pers: Perspektif Sosial, Budaya, dan Sejarah yang diisi oleh Adi Marsiela Ketua dari Aliansi Jurnalis Independen Bandung dan Tarsi yang merupakan seorang wartawan di Harian Tribun Jabar.
Tema tersebut diambil, lantaran akhir-akhir ini media dan pemberitaannya kerap jadi sorotan, ditambah lagi beberapa waktu sebelumnya sempat ada isu terkait dengan pemberitaan yang disajikan oleh media kampus UIN, dimana pemberitaannya kali itu di"jegal" oleh organ ekstra. Sehingga kurawa-kurawa LPIK tertarik untuk mengangkat kebebasan pers sebagai tema diskusinya kali ini.
Sore itu, aku menyempatkan hadir ke acara LPIK karena memang memiliki waktu luang dan tidak ada agenda lain. Senang juga rasanya melihat antusisame orang-orang terhadap acaranya. Acara yang di gelar di Kopma Lt. 1 gedung Student Center kampus UIN Bandung ini, dipenuhi oleh pengunjung yang sepertinya tertarik dengan tema dan pengisi diskusi. Hal tersebut terlihat dari tak tersisanya bangku kosong yang sebelumnuya telah disediakan.
| Suasana Kopma Lt. 1 Gedung Student Center UIN SGD Bandung ditengah berlangsungnya kegiatan diskusi Kebebasan Pers: Perspektif Sosial, Budaya dan Sejarah, pukul 18.30 Malam. |
Mengawali diskusi, Tarsi menyinggung tentang sejarah pers di Indonesia. Dimana sebelum reformasi, pers sama sekali tidak memiliki kebebasaan dalam menerbitkan berita atau informasi, segala sesuatunya diatur dalam kekuasaan pemerintah, yang jika tidak sesuai maka pers/media tersebut akan dibredel oleh pemerintah yang berkuasa saat itu.
Setelah melalui perjalanan panjang, barulah pers dapat menghirup udara kebebasan saat jatuhnya orde baru dan digantikan oleh reformasi yang terjadi pada tahun 1998. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yang merupakan sikap dari kumpulan media-media yang pernah dibredel oleh pemerintah seperti Detik, Tempo, dan Editor. Namun setelah itu pun tidak sepenuhnya menjadi pers yang bebas, bebas yang dimaksud adalah bebas bertanggung jawab, karena dalam proses selanjutnya pers dibatasi dalam ketentuan hukum, diatur dalam undang-undang dan harus berpegang pada Kode Etik Jurnalistik.
| Wartawan Hrian Tribun Jabar, Tarsi. |
Sedangkan mengenai isu sosial mengenai maraknya berita hoax, Adi Marsiela mengatakan bahwa sebenarnya tidak ada berita bohong itu. Karena menerbitkan sebuah berita itu hakikatnya melalui proses yang panjang, tidak asal tulis lalu di publikasikan. Sebuah berita pasti melalui tahap editing, memasuki meja redaktur, melalui proses cek n ricek fakta yang ada, sebelumnya akhirnya disebarluaskan ke khalayak ramai. Itulah yang biasa dikenal juga sebagai proses kejurnalistikan. Adapun berita-berita hoax yang ramai menghiasi linimasa, menurut Adi tidaklah layak disebut sebuah berita, karena sekali lagi, dalam menerbitkan sebuah berita itu melalui proses yang sangat panjang, hal itu terjadi lebih diakibatkan oleh mudahnya mengakses teknologi. Dimana bermunculan situs-situs yang tidak bertanggungjawab, yang biasanya hadir untuk memprovokasi. Itulah yang seharusnya diminimalisir, dengan tidak membaca informasi berkedok berita dari situs online yang tidak jelas.
"Makanya tadi saya tanya, siapa disini yang hari ini baca koran? ngga ada yang baca kan? kalian harus tau, berita yang diterbitkan oleh koran itu, sudah pasti benar adanya dan tidak mungkin berita hoax karena sebelumnya telah melewati proses tertentu. Jadi, kalau kalian mau meminimalisir berita hoax bacalah koran," ujarnya.
Adi pun menambahkan, bahwa saat ini sudah langka media yang netral. Hampir semua media dikuasai oleh pemilik modal, yang notabene adalah para petinggi partai dan pemasang iklan. Hal itu lah yang kemudian menjadikan pers tidak lagi netral, karena itu sangat mempengaruhi kinerja wartawan dan pelaku jurnalistik lainnya. Sebuah media tidak akan berani memberitakan kecacatan yang menyangkut si pemilik modal atau si pemasang iklan, karena itu dianggap dapat merugikan perusahaan dan si pemberi modal itu sendiri, tidak peduli sekalipun "kecacatan" itu merugikan masyarakat luas.
| Adi Marsiela, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Bandung. |
Di akhir diskusi Adi mengatakan, bahwa tulisan dalam sebuah media memiliki kekuatan yang besar. Apabila kita ingin menuntut hak atau menegakan kebenaran. Tulislah! Pergunakan media-media yang ada.
Misalnya saja dalam kegiatan perkuliahan dengan segala tetek bengek yang berkaitan dengan kampus, kita harus turut mengawasi jalannya birokrasi yang ada, baik itu mengenai uang pangkal yang kita bayarkan setiap semester larinya kemana, atau mengenai fasilitas-fasilitas yang kita terima. Jangan sampai WC student center tidak ada airnya kita diam saja, ajukanlah protes dengan jalan menulis, dan pers kampuslah yang dapat berperan sebagai medianya.
Selebihnya, berbicara mengenai sejarah pers di Indonesia adalah bahasan yang panjang. Di sana pun ada problem hari pers nasional yang masih terus dikaji hingga saat ini. Terlepas dari itu, pers Indonesia bergerak menurut jamannya. Misalnya, saat masa sebelum kemerdekaan disebut pers revolusi, dan sekarang pers yang berada dalam tantangan pasar atau pemodal.
| Kurawa LPIK mengobrol santai dengan Adi dan Tarsi selepas Diskusi selesai. |
Akirnya, sekitar jam 21.00 WIB diskusi dicukupkan, karena lampu student center yang sebentar lagi akan padam. Acara diskusi berjalan lancar dan cukup hidup. Dengan respon yang luarbiasa dari audiens melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan pembawaan dari pemantik diskusi pun sangat menyenangkan. Sehingga diakhir acara aku bisa melihat raut-raut wajah senang dari pengunjung yang hadir di ruangan. HEHE
| Kurawa LPIK dan Pemantik Diskusi Rumpi Ririwa Berfoto Bersama di Akhir Acara. |
0 comments